TUGAS
4 ETIKA PROFESI
ETIKA
KEILMUAN
DISUSUN
OLEH :
MUH
IMAM FIRMANSYAH L. KARIM ( 16-630-002 )
JURUSAN
TEKNIK SIPIL
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
DAYANU IKHSANUDDIN
BAUBAU
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan merupakan alat bagi manusia, yang diciptakan dengan tujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Dengan ilmu dapat diciptakan
suasana yang lebih baik dan dengan demikian melalui ilmulah manusia dapat lebih
mudah mencapai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. Meskipun dalam
perkembangannya kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu mensejahterakan manusia,
tetapi banyak pula keburukan bahkan penderitaan yang dialami oleh manusia
sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sebagai sebuah disiplin ilmu dan keilmuan, didalamnya
tekandung nilai-nilai seperti etika, moral, norma, dan kesusilaan. Demikian
pula pada aplikasinya, seorang ilmuwan dalam kehidupan sehari-hari seakan
dituntut untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, baik saat
berpikir maupun bertindak. Kendati tinggi ilmu seseorang, apabila tidak
memiliki nilai-nilai yang sudah menjadi semacam aturan dalam kehidupannya dan tidak
memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan dan kemaslahatan orang banyak
orang tersebut tidak akan dipandang tinggi.
Dalam filsafat juga memiliki konsep pemikiran baik dan buruk
yang dikenal dengan nama etika, yakni aturan untuk membedakan baik dan
buruk. Suatu ilmu dan etika adalah sumber pengetahuan yang diharapkan
dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku menyimpang di kalangan masyarakat.
Untuk itu peranan ilmu sangat dibutuhkan sebagai sumber moralitas dalam
mengembangkan kesejahteraan dan kemaslahatan manusia.
Berdasarkan latar belakang tersebut
diatas ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah etika keilmuan ini
adalah:
1. Penngertian etika, moral
2. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan
etika
3. Apakah ilmu bebas nilai atau tidak
bebas nilai
4. Persoalan etika ilmu pengetahuan
5. Sikap ilmiah dan tanggung jawab
ilmuwan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika, Moral
Secara
etimologis etika berasal dari kata ethos yang berarti adat, kebiasaan
atau susila. Dalam filsafat etika membicarakan tentang tingkah laku atau
perbuatan manusia dalam kaitan antara baik dan buruk. Baik dan buruk adalah
suatu penilaian atas apa yang bisa dilihat dan dirasakan seperti perbuatan dan
tingkah laku. Sedangkan untuk hal-hal yang menyangkut aspek motif atau watak,
sulit dinilai. Secara garis besar ada dua macam etika yaitu etika deskriptif
dan etika normatif. Etika deskriptif hanya bersifat menggambarkan, melukiskan
dan menceritakan sesuatu seperti apa adanya tanpa memberikan penilaian atau
pedoman tentang bagaimana seharusnya bertindak. Sedangkan etika selain
memberikan penilaian baik dan buruk juga memberikan pedoman mana yang harus
diperbuat dan yang tidak.
Dalam
bahasa Yunani, ethika berati ethikos yang mengandung arti karakter,
kebiasaan, kecenderungan dan sikap yang menagandung analisis konsep-konsep
seperti harus, benar salah, mengandung pencarian watak ke dalam watak moralitas
atau tindakan-tindakan moral atau mengandung pencarian kehidupan yang baik
secara moral. Etika secara lebih detail merupakan ilmu yang membahas tentang
moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moral.
Moral
berasal dari bahasa Latin moralis (kata dasar mos, moris) yang berarti
adat istiadat, kebiasaan, cara, dan tingkah laku. Moral berarti sesuatu yang
menyangkut prinsip benar salah, dan salah satu dari suatu perilaku yang
menjadi standar perilaku manusia. Bila dijabarkan lebih lanjut moral mengandung
empat pengertian: i) baik-buruk, benar-salah dalam aktifitas manusia, ii)
tindakan yang adil dan wajar, iii) kapasitas untuk diarahkan pada kesadaran
benar-salah, dan kepastian untuk mengarahkan orang lain agar sesuai dengan
kaidah tingkah laku yang dinilai benar-salah dan iv) Sikap seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.
B. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan
Etika
Etika
adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran yang mengatakan bagaimana seharusnya
hidup, tetapi itu adalah ajaran moral. Ilmu Pengetahuan dan etika sebagai suatu
pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku
penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat. Ilmu pengetahuan dan etika
diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masayarakat
sekitar agar dapat menjadi ilmuwan yang memiliki moral dan akhlak yang
baik dan mulia.
Sebagai
suatu obyek, etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu maupun
kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukan itu salah
atau benar, baik atau buruk. Dengan begitu dalam proses penilaiannya ilmu
pengetahuan sangat berguna dalam memberikan arah atau pedoman dan
tujuan masing-masing orang. Ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan
umat manusia tanpa merendahkan martabat seseorang.
Etika
memberikan batasan maupun standar yang mengatur pergaulan manusia di dalam
kelompok sosialnya yang kemudian dirupakan ke dalam aturan tertulis yang secara
sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada
saat diperlukan dapat di fungsikan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan
tertentu terhadap segala macam tindakan yang secara umum dinilai menyimpang
dari kode etik yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Ilmu sebagai asas
moral atau etika mempunyai kegunaan khusus yakni kegunaan universal bagi umat
manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaannya.
Masalah
moral tidak dapat dilepaskan dengan tekad nanusia untuk menemukan kebenaran.
Sebab untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran diperlukan keberanian.
Sejarah kemanusiaan telah mencatat semangat para ilmuwan yang rela mengorbankan
nyawanya untuk mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Kemanusiaan tak
pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka
ilmuwan akan mudah melakukan pemaksaan intelektual. Penalaran secara rasional
yang telah membawa manusia mencapai harkat kemanusiaannya berganti dengan
proses rasionalisasi yang mendustakan kebenaran.
Maka
inilah pentingnya etika dan moral dalam ilmu pengetahuan yang menyangkut
tanggung jawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan
bagi sebesar-besarnya kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam
penerapannya ilmu pengetahuan juga mempunyai akibat positif dan negatif bahkan
destruktif maka diperlukan nilai atau norma untuk mengendalikannya. Di sinilah
etika menjadi ketentuan mutlak yang akan menjadi pengendali bagi pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk meningkatkan derajat hidup serta
kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.
C. Apakah Ilmu Bebas Nilai atau Tidak
Bebas Nilai?
Untuk
membedakan apakah ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai kita perlu membedakan
antara penyelenggaraan ilmu itu sendiri dan penerapan Ilmu, antara mengusahakan
ilmu dan menggunakan ilmu. Ilmu memang mewakili nilai tertentu, ilmu bernilai
karena menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya, yang obyektif dan dikaji
secara kritis. Bebas nilai adalah tuntutan bagi ilmu pengetahuan agar ilmu
pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan niali-nilai lain di luar
ilmu, agar ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan dan tidak didasarkan
pada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan
tunduk pada berbagai pertimbangan di luar ilmu pengetahuan seperti politik,
religius dan moral, ilmu tidak akan berkembang secara otonom, karena ilmu
menjadi tidak murni. Di sini ada bahaya kebenaran yang harus dikorbankan demi
nilai-nilai lain. Dengan demikian kita tidak akan pernah mencapai kebenaran
ilmiah dan rasional-obyektif.
Menurut
Konrad Kebung (2011) ilmu harus bebas nilai dan lepas dari nilai-nilai di
luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bertujuan memberi pemahaman tentang
pelbagai masalah dalam hidup. Ada dua kecenderungan dasar dalam melihat
tujuan ilmu pengetahuan. Pertama, kecenderungan puritan-elitis
(ilmu adalah sesuatu yang mewah, elit), bahwa tujuan akhir dari ilmu
pengetahuan adalah demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu bertujuan untuk
menemukan penjelasan tentang sagala sesuatu demi kebenaran yang memuaskan rasa
ingin tau manusia. Kepuasan seorang ilmuwan adalah menemukan teori-teori besar
yang dapat menjelaskan pelbagai persoalan terlepas dari kegunaan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Dengan begitu ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang
elit, mewah dan hanya untuk segelintir orang saja. Kedua, Kecenderungan
pragmatis, ilmu pengetahuan tidak hanya untuk mencari penjelasan tentang
berbagai persoalan tetapi juga untuk memecahkan berbagai persoalan dalam
kehidupan, karena berguna ilmu menjadi menarik, membuat hidup menjadi lebih
baik dan menyenangkan.
Josep
Situmorang (1996) seperti dikutip oleh Mohammad Adib, MA, menyatakan bahwa
bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan
pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur
tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan
itu sendiri. Ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu
bebas nilai, yaitu: 1) Ilmu harus bebas dari pengeruh eksternal seperti faktor
politis, idiologis, agama, budaya dan unsur kemasyarakatan lainnya, 2)Perlunya
kebebasan ilmiah yang mendorong terjadinya otonomi ilmu pengetahuan. Kebebasan
itu menyangkut kemungkinan untuk menentukan diri sendiri, 3) Penelitian ilmiah
tidak luput dari pertimbangan etis (yang sering dituding menghambat kemajuan
ilmu), karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Seorang
sosiolog, Weber menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai, tetapi ia juga
mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak
yakin ketika para ilmuwan sosial melakukan aktifitasnya seperti mengajar atau
menulis mengenai bidang sosial itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan
tertentu. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan ke dalam bagian praktis ilmu
sosial jika praktik itu mengandung tujuan rasional. Tanpa keinginan melayani
kepentingan orang, budaya, maka ilmu sosial tidak beralasan untuk diajarkan.
Jadi meskipun obyektifitas merupakan ciri mutlak ilmu pengetahuan, tetapi dalam
pengembangan atau penerapannya ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan
pilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.
D. Persoalan Etika Ilmu Pengetahuan
Penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi selalu memerlukan pertimbangan-pertimbangan dari
dimensi etis dan hal ini tentu sangat berpengaruh pada pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di masa depan. Tanggung jawab etis ini
menyangkut kegiatan atau penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi itu
sendiri. Sehingga seorang ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi harus selalu memperhatikan kodrat dan martabat manusia, ekosistem
dan bertanggung jawab terhadap kepentingan generasi yang akan datang dan
kepentingan umum, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi itu
bertujuan untuk pelayanan eksistensi manusia dan bukan sebaliknya untuk
menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri.
Tanggung
jawab ini juga termasuk berbagai hal yang menjadi sebab dan akibat ilmu
pengetahuan dan teknologi pada masa lalu maupun masa yang akan datang. Jadi
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat atau
meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada manusia itu sendiri, karena
ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan
manusia. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan
kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, yakni kedewasaan untuk
menentukan mana yang layak atau tidak layak, mana yang baik dan mana yang
buruk.
Beberapa problem yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dicontohkan oleh Amsal Bakhtiar
(2010) pada perkembangan ilmu bioteknologi, perkembangan yang dicapai
sangat maju seperti rekayasa genetika yang menghkhawatirkan banyak kalangan.
Tidak saja para agamawan dan pemerhati hak-hak asasi manusia tetapi para ahli
bioteknologipun juga semakin khawatir karena jika akibatnya tidak bisa
dikendalikan maka akan terjadi bencana besar bagi kehidupan
manusia. Sebagai contoh adalah rekayasa genetika yang dahulunya bertujuan untuk
mengobati penyakit keturunan seperti diabetes, sekarang rekayasa tidak hanya
bertujuan untuk pengobatan tetapi untuk menciptakan manusia-manusia baru yang
sama sekali berbeda baik secara fisik maupun sifat-sifatnya. Dengan rekayasa
tersebut manusia tidak memiliki hak yang bebas lagi. Meskipun teori ini belum
tentu terwujud dalam waktu singkat tetapi telah menimbulkan persoalan dan
kekhawatiran di kalangan ahli etika dan para agamawan, apalagi jika jatuh pada
penguasa yang lalim pasti dampaknya akan sangat membahayakan karena bisa
menghancurkan eksistensi manusia. Maka
disinilah diperlukan kedewasaan dari manusia itu sendiri untuk menentukan mana
yang baik dan buruk bagi kehidupannya.
Tugas
terpenting ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyediakan bantuan agar
manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja sarana untuk mengembangkan diri
manusia, tetapi juga merupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia untuk
memperkokoh kedudukan serta martabat manusia baik dalam hubungan sebagai
pribadi dengan lingkungannya, maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab
terhadap Allah Swt.
E. Sikap llmiah dan tanggung jawab Ilmuwan
Ilmu
adalah suatu cara berpikir tertentu mengenai suatu obyek dengan pendekatan yang
khas sehingga menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan ilmiah, dalam arti
bahwa sisten dan struktur ilmu itu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang bersifat kritis, rasional dan logis,
obyektif dan terbuka. Namun yang juga penting adalah apakah pengembangan
pengetahuan ilmiah itu membawa dampak positif`dan baik bagi manusia atau
sebaliknya justru membawa keburukan. Oleh karena itu penting sekali sikap
ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Dan di sini letak moralitas
dari seorang ilmuwandalam penembangan ilmu, baik itu menyangkut
tanggungjawabnya terhadap tata alamiah, terhadap manusia maupun terhadap Allah
Swt. Sikap ilmiah yang sesuai bagi seorang ilmuwan antara lain: i) tidak adanya
rasa pamrih yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah
yang obyektih; ii) Bersikap selektif yang menyangkut cara mengambil kesimpulan
yang beragam, macam-macam metodologi dan lain-lain; iii) selalu tidak merasa
puas dengan hasil penelitiannya sehingga selalu ada dorongan untuk melakukan
riset dalam hidupnya dan iv) Memiliki sikap etis untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan demi kebahagiaan manusia dan untuk pembangunan bangsa dan negara.
Ilmu
pengetahuan menghasilkan teknologi yang diterapkan pada masyarakat. Ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan
penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia.
Disinilah pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diperhatikan dengan
sebaik-baiknya.
Proses
transformasi ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas
dari ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan
pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika
keilmuan serta masalah bebas nilai. Fungsi ilmuwan tidak berhenti pada penelaah
dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggungjawab agar produk
keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ilmu
merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara
terbuka oleh masyarakat. Sekiranya hasil karya itu memenuhi syarat-syarat
keilmuan maka dia diterima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan dan
digunakan oleh masyarakat tersebut. Dengan perkataan lain, penciptaan ilmu
bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat
sosial. Peranan individu inilah yang bersifat dominan dalam kemajuan ilmu yang
dapat mengubah wajah peradaban. Kreatifitas individu yang didukung oleh sistem
komunikasi sosial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu
berjalan secara efektif. Maka jelaslah bahwa seorang ilmuwan memiliki
tanggung jawab sosial yang tinggi. Bukan saja karena dia adalah warga
masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat, namun
yang lebih penting adalah adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam
kelangsungan hidup bermasyarakat.
Implikasi
penting dari tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah bahwa setiap
pencarian dan penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan
etis yang utuh.. Proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi
etika, merupakan kategori moral yang menjadi dasar sikap etis seorang ilmuwan.
Ilmuwan bukan saja berfungsi sebagai penganalisis materi tersebut, tetapi juga
harus memiliki moral yang baik.
Kaum ilmuwan tidak boleh menganggap
ilmu dan teknologi adalah segala-galanya, masih terdapat banyak lagi
sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia dengan baik. Demikian juga
masih terdapat kebenaran-kebenaran lain disamping kebenaran keilmuan yang
melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Jika kaum ilmuwan konsekuen dengan
pandangan hidupnya baik secara moral maupun intelektual maka salah satu
penyangga masyarakat modern ini, yaitu ilmu pengetahuan akan berdiri secara
kokoh.
Di
bidang etika tanggung jawab ilmuwan bukan lagi hanya memberikan informasi namun
juga memberikan contoh bagaimana bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan,
menerima pendapat orang lain, kukuh pada pendirian yang dianggap benar dan
berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil
penelitiannya sejernih mungkin berdasarkan rasionalitas dan metodologis yang
tepat. Secara moral seorang ilmuwan tidak akan membiarkan hasil penelitiannya
digunakan untuk tujuan yang melanggar asas-asas kemanusian.
Pengetahuan
merupakan sarana yang dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia dan
dapat pula disalahgunakan. Sehingga tanggung jawab ilmuwan sangatlah besar,
tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral. Jika ilmuwan telah dapat
memenuhi tanggung jawab sosialnya, maka ilmu penetahuan itu akan berkembang
dengan pesat, ilmu pengetahuan itu akan dapat memberikan manfaat besar bagi
kehidupan manusia, dan ilmu pengetahuan itu tidak akan menimbulkan kerusakan
dan konflik di masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sebagai suatu obyek etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh oleh
individu maupun masyarakat untuk menilai suatu tindakan yang akan dikerjakan.
Dimana etika memberikan penilaian. batasan dan arahan yang mengatur manusia
dalam kelompok sosial lainnya. Dalam proses penilaiannya etika memberikan
arahan agar ilmu pengetahuan berguna dalam memberikan arah atau
pedoman dan tujuan masing-masing orang. Ilmu secara moral harus ditujukan
untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkan martabat seseorang.
Dalam penyelenggaraan ilmu
pengetahuan menurut pendapat beberapa tokoh menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
bersifat bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar
didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak
terpengaruh oleh faktor eksternal seperti faktor politis, idiologis, agama dan
budaya. Tetapi dalam penerapannya ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan segi
kemaslahatannya bagi umat manusia.
Persoalan yang mendasar dalam etika
keilmuan adalah bahwa penerapan ilmu pengetahuan selalu memerlukan pertimbangan
dari segi etis yang berpengaruh pada pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang
akan datang. Sehingga dalam pengembangannya para ilmuwan harus memperhatikan
dan menjaga martabat manusia dan kelestarian lingkungan. juga diperlukan,
kedewasaan yang sesungguhnya dari manusia untuk menentukan mana yang baik
dan buruk bagi kehidupannya.
Dalam penyelenggaraan ilmu
pengetahuan seorang ilmuwan harus menghasilkan pengetahuan ilmiah yang bisa
dipertanggungjawabkan secara terbuka, kritis rasional, logis dan obyektif. Dan
dalam pengembangannya diperlukan moralitas dan tanggung jawab yang tinggi dari
ilmuwan sehingga berdampak positif bagi kehidupan manusia. Tanggung jawab
ilmuwan meliputi tanggung jawab terhadap tata ilmiah, manusia dan kepada Allah
Swt.
Darftar Pustaka
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar,MA, Filsafat
Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Prof. Konrad Kebung, Ph.D, Filsafat
Ilmu Pengetahuan, Pustakaraya, Jakarta, 2011.
Mohammad Adib, MA, Filsafat Ilmu
( Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pngetahuan), Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2011
Komentar
Posting Komentar